Semua tetua, leluhur, dan ketua sekte berhamburan keluar. Tak satu pun menduga kekuatan sebesar itu bisa menerobos masuk dan menembus formasi pelindung tanpa terdeteksi.

Dari halaman kuil, para murid Sekte Pedang Es keluar membawa senjata. Salju turun deras, namun tak ada rasa takut di wajah mereka. Mereka berdiri tegak, bersiaga menghadapi musuh.

Langit yang memutih oleh badai salju kini dipenuhi siluet manusia. Ratusan aura kuat mengguncang udara. Puluhan Grandmaster melayang dalam formasi melingkar, dan setidaknya sepuluh aura Immortal berpendar menekan seperti meteor raksasa yang menggantung di atas langit.

Mereka mengenakan lambang dari berbagai sekte, namun satu hal yang sama dari semua wajah mereka adalah niat membunuh yang tak terbantahkan.

Para tetua Sekte Pedang Es saling berpandangan. Di atas gerbang utama, Ketua Sekte Bai Qianyu berdiri dengan wajah kelam, namun tetap tenang.

"Saya tidak menyangka Sekte Pedang Es mendapat kehormatan seperti ini, dikunjungi para tokoh besar dari berbagai sekte. Apa yang sebenarnya terjadi? Silakan masuk, mari kita bicarakan baik-baik."

Seorang pria paruh baya melangkah maju. Rambutnya abu keperakan, matanya memancarkan cahaya biru dingin.

"Bai Qianyu, tak perlu basa-basi. Kami dari Sekte Salju Hitam datang bersama sekte lain untuk menuntut pertanggungjawaban. Anakmu telah membunuh anakku dengan cara licik."

Seorang wanita berjubah kelam dari Sekte Kabut Dingin menyusul, nadanya tajam.

"Tuntutan kami sederhana. Serahkan anak itu, atau Sekte Pedang Es akan kami hapus dari Benua Beihan. Di belakang kami ada ribuan murid dari enam sekte gabungan. Ini bukan peringatan, ini keputusan."

Bai Qianyu mengepal tangan, suaranya rendah namun tegas.

"Huo Leiyan, jangan asal bicara. Anakmu tewas karena menyerang dari belakang setelah kalah. Anakku sudah membiarkannya hidup, tapi dia menyerang lagi, dan akhirnya terkena serangan balik dari kekuatannya sendiri."

"Aku tidak peduli!" Huo Leiyan membentak. "Kalau tidak kalian serahkan anak itu, serahkan saja teknik Eternal Stasis Casket sebagai gantinya."

Kemarahan memuncak di wajah Leluhur Xue Yuning.

"Dari awal memang itu niat kalian. Kalian pikir kami tidak tahu kalian mengincar teknik itu sejak dulu? Jangan harap akan kami serahkan meski harus hancur bersama tempat ini."

Ketua Sekte Salju Hitam tertawa mengejek.

"Kami memang tak bisa mengalahkan kalian selama ini. Tapi sekarang kami datang bersama para senior dari sekte lain. Coba kita lihat, apa kalian masih bisa bertahan."

Ia lalu menatap tajam ke arah Bai Qianyu.

"Apa kau tak penasaran bagaimana kami bisa masuk ke tempat ini tanpa ketahuan?"

Bai Qianyu terdiam. Sejak tadi dia memang curiga. Tak mungkin kekuatan sebesar itu mendekat tanpa terdeteksi. Para tetua dan leluhur pun mulai tampak bingung.

Huo Leiyan menyeringai.

"Formasi kalian memang hebat, tidak bisa ditembus, apalagi untuk teleportasi. Tapi berkat bantuan dari salah satu anggota kalian yang merusaknya dari dalam. Sekarang kami bisa keluar masuk sesuka hati. Di seberang array teleportasi, ribuan pasukan lainnya sudah menunggu untuk menghancurkan kalian."

"Apa?" Para tetua Sekte Pedang Es terguncang. Mereka saling menatap, tak percaya.

Saat itulah seseorang dari pihak musuh membuka penutup wajahnya.

Sosok wanita tua dengan mata dingin berdiri tenang di depan. Semua orang langsung mengenalinya.

"Fei Ronghua...? Tidak mungkin...!" seru beberapa tetua bersamaan.

Xue Yuning maju selangkah, matanya penuh amarah.

"Fei Ronghua! Bagaimana bisa kamu melakukan ini? Kami merawatmu sejak kecil. Kami yang mendidikmu. Kenapa kau mengkhianati sektemu sendiri?"

Fei Ronghua menatap mereka tajam, suaranya gemetar karena emosi.

"Kalian yang mengkhianatiku. Suami dan anakku tewas karena kalian. Kalian punya Eternal Stasis Casket, tapi menolak menggunakannya untuk menyelamatkan mereka. Kalian membiarkan mereka mati tanpa rasa iba. Sekarang, kalian akan merasakan karmanya. Hari ini, Sekte Pedang Es akan dilenyapkan."

Han Tiansheng maju ke depan, suaranya dalam dan berat.

"Fei Ronghua, dendammu tak beralasan. Kami sudah menjelaskan, nyawa mereka sudah tiada. Teknik itu tidak bisa menghidupkan orang mati."

Ketua Sekte Kabut Dingin tertawa sinis.

"Leluhur Han Tiansheng, kami semua tahu kalian tidak mau menyelamatkan mereka karena takut anak Ketua Sekte kalah bersaing dengan anak Fei Ronghua. Kalau saja tidak kalian cegah, posisi Ketua Sekte Pedang Es seharusnya milik suaminya tetapi kalian membuat Bai Qianyu yang menjadi pemimpin."

"Tutup mulutmu Mu Qianyin! Kalian semua sekte-sekte yang seharusnya di hancurkan dari dunia ini karena menyakiti orang dimana-mana. Terutama kamu yang suka meracuni penduduk biasa hanya untuk hiburan." bentak Bai Qianyu marah.

Suasana menjadi semakin tegang, udara terasa berat saat semua kultivator mengeluarkan aura mereka.

"Hancurkan Sekte Pedang Es." teriak ketua Sekte Salju Hitam. Dia adalah pemimpin seluruh sekte yang bergabung didalam penyerangan. Dia juga yang menghghasut dan membuat sekte lain yang memiliki dendam untuk bersatu menyerang dengan janji membagi sumber daya termasuk membagi para murid untuk mereka nikmati. Sedangkan untuk para leluhur dan ketua sekte, teknik Eternal Stasis Casket merupakan teknik berharga yang dapat menyelamatkan nyawa mereka sendiri atau rekan dalam keadaan darurat sehingga mereka sangat antusias untuk memilikinya. Selain itu, di Sekte Pedang Es memiliki banyak teknik rahasia yang di wariskan dari turun temurun bahkan legenda mengatakan lokasi Sekte Pedang Es memiliki rahasia sebuah portal yang dapat menghubungkan dunia mereka dengan dunia lain yang memiliki sumber daya jauh lebih besar dari yang mereka miliki saat ini.

"Tunggu! Aku, Bai Qianyu, Ketua Sekte Pedang Es, tidak ingin terjadi pertumpahan darah yang tidak perlu. Aku menantang kalian untuk maju menghadapiku." Ketua sekte Pedang Es segera mengeluarkah kekuatan puncaknya sebagai Grandmaster Langit.

Dari pihak lawan, Ketua Salju Hitam  dengan jubah panjang bersulamkan simbol salju hitam tersenyum tipis. "Baik. Aku terima tantanganmu."

Pertarungan pun dimulai. Cahaya pedang dan salju membelah langit. Suara ledakan spiritual meledak di udara. Bai Qianyu yang memiliki kemurnian Qi Spiritual lebih tinggi dan memiliki banyak teknik dan jurus formasi, dengan cepat unggul mengalahkan Ketua Salju Hitam.

"Thousand Ice Spear Array"

Ketua Sekte Pedang Es mengaktifkan salah satu jurus formasi terkuatnya sehingga suhu di area sekitarnya mendadak turun drastis. Salju membeku di udara, angin berhenti berhembus, dan langit menjadi kelabu.

Ribuan tombak es panjang bermunculan dari tanah, langit, dan udara di sekeliling target, mengambang kaku dalam formasi spiral mematikan. Setiap tombak memancarkan aura dingin menusuk tulang, cukup kuat untuk membekukan darah dalam sekejap.

Saat serangan dimulai, tombak-tombak itu meluncur serempak dari segala arah seperti hujan kematian beku, tidak memberi ruang sedikit pun untuk menghindar. Efeknya menyerupai badai es yang dipadatkan menjadi panah pembunuh presisi tinggi.

Namun saat hampir menang, dua Grandmaster dari belakang melepaskan serangan rahasia ke arahnya.

DUAR!

"Aghh!"

Bai Qianyu terhuyung, darah menyembur dari dadanya. Dia jatuh ke tanah, tubuhnya membeku oleh serangan gabungan itu.

"Ketua!!" para murid berseru.

Namun sebelum musuh sempat menyerang lagi, Leluhur Han Tiansheng melesat ke udara. Dengan aura Immortal tahap pertengahan, dia turun tangan.

"Kalian benar-benar memalukan! Tiga lawan satu? Kalian tidak layak disebut sekte!"

Ia meledakkan tekanan qi ke arah musuh. Namun seolah sudah diatur, tiga Immortal dari pihak lawan langsung mengepungnya dari tiga sisi.

"Han Tiansheng, serahkan teknik itu kepada kami atau kami akan membunuhmu." Teriak salah satu immortal yang menyerang.

Tanpa menjawab, Han Tiansheng menyerang mereka dan terjadi pertempuran tidak seimbang antara immortal pihak Sekte Pedang Es menghadapi tiga immortal gabungan pihak lawan. Tidak lama Han Tiansheng terluka terkena salah satu serangan mereka.Dia segera mengeluarkan teknik yang sama seperti Bai Qianyu namun dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

"Thousand Ice Spear Array"

Segera array terbentuk  dan tombak-tombak es menyerang ketiga Immortal, namun dengan jumlah tidak seimbang, serangan tersebut dapat dengan mudah mereka hancurkan bahkan serangan mereka membuat sang leluhur mulai terdesak.

Saat salah satu musuh melesatkan tombak es tepat ke jantungnya. Serangan ini tidak dapat di hindari oleh Han Tiansheng karena sedang mengeluarkan teknik Thousand Ice Spear Array menahan serangan kedua immortal lainnya.

Melihat leluhur Han Tiansheng dalam bahaya, leluhur Xue Yuning bergerak hendak menolong, namun tiga immortal lainnya bergerak menghalangi.

"Rising Flame Ascension!"

Seketika sebuah pilar api besar seperti ledakan gunung berapi meluncur keatas dengan kecepatan yang luar biasa kearah Immortal yang hendak menusuk Han Tiansheng.

Didalam pilar tersebut terdapat sosok wanita cantik dengan api keemasan yang menyala dari kaki hingga kepala. Api tersebut tidak hanya membakar udara di sekitarnya, tapi juga menyalakan tanah di bawahnya hingga meleleh.

DUAR!

Immortal yang tidak menduga ada pihak lawan yang memiliki kekuatan besar terlambat menghindar sehingga tubuhnya terkena telak serangan tersebut dan terluka parah.

Leena berdiri di samping sang leluhur yang terluka, matanya bersinar marah.

"Sekarang... aku lawan kalian."

